Saturday, January 27, 2007

ASAL USUL MASYARAKAT BIMA

ASAL USUL MASYARAKAT BIMA
(DOU MBOJO)
Oleh Zainudin
Kandidat Magister pada Ilmu Politik UGM Yogyakarta
Kelahiran Ncera, Bima, NTB


Masyarakat Bima yang sekarang kita kenal merupakan perpaduan dari berbagai suku, etnis dan budaya yang hampir menyebar di seluruh pelosok tanah air. Akan tetapi pembentukan masyarakat Bima yang lebih dominan adalah berasal dari imigrasi yang dilakukan oleh etnis di sekitar Bima. Karena beragamnya etnis dan budaya yang masuk di Bima, maka tak heran agama pun cukup beragam meskipun 90% lebih masyarakat Bima sekarang beragama Islam. Untuk itu, dalam pembahasan berikut akan kita lihat bagaimana keragaman masyarakat Bima tersebut, baik dilihat dari imigrasi secara etnis/budaya maupun secara agama/kepercayaan.

Variasi Masyarakat Bima Berdasarkan Etnis/Budaya

Orang Donggo
Orang Donggo dikenal sebagai penduduk asli yang telah menghuni tanah Bima sejak lama. Mereka sebagian besar menempati wilayah pegunungan. Karena letaknya yang secara geografis di atas ketinggian rata-rata tanah Bima, Dou Donggo (sebutan bagi Orang Donggo dalam bahasa Bima), kehidupan mereka sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang dijalani masyarakat Bima saat ini. Masyarakat Donggo mendiami sebagian besar wilayah Kecamatan Donggo sekarang, yang dikenal dengan nama Dou Donggo Di, sebagian lagi mendiami Kecamatan Wawo Tengah (Wawo pegunungan) seperti Teta, Tarlawi, Kuta, Sambori dan Kalodu Dou Donggo Ele.
Pada awalnya, sebenarnya penduduk asli ini tidak semuanya mendiami wilayah pegunungan. Salah satu alasan mengapa mereka umumnya mendiami wilayah pegunungan adalah karena terdesak oleh pendatang-pendatang baru yang menyebarkan budaya dan agama yang baru pula, seperti agama Islam, Kristen dan bahkan Hindu/Budha. Hal ini dilakukan mengingat masih kuatnya kepercayaan dan pengabdian mereka pada adat dan budaya asli yang mereka anut jauh-jauh hari sebelum para pendatang tersebut datang.
Kepercayaan asli nenek moyang mereka adalah kepercayaan terhadap Marafu (animisme). Kepercayaan terhadap Marafu inilah yang telah mempengaruhi segala pola kehidupan masyarakat, sehingga sangat sukar untuk ditinggalkan meskipun pada akhirnya seiring dengan makin gencarnya para penyiar agama Islam dan masuknya para misionaris Kristen menyebabkan mereka menerima agama-agama yang mereka anggap baru tersebut. Sebagaimana umumnya mata pencaharian masyarakat yang masih tergolong tradisional, mata pencaharian Dou Donggo pun terpaku pada berladang dan bertani. Sebelum mengenal cara bercocok tanam, mereka biasanya melakukan perladangan berpindah-pindah, dan karena itu tempat tinggal mereka pun selalu berpindah-pindah pula (nomaden).

Berhadapan dengan kian gencarnya arus modernisasi, seiring itu pula pemahaman masyarakat akan kenyataan hidup berubah, terutama dalam hal pendidikan dan teknologi. Saat ini, telah sekian banyak para sarjana asli Donggo, yang umumnya menimba ilmu di luar daerah seperti Ujung Pandang, Mataram atau bahkan ke kota-kota di pulau Jawa seperti Bandung, Yogyakarta, Jakarta dan lain-lain. Demikian juga halnya dengan teknologi, yang akhirnya merubah pola hidup mereka seperti halnya dalam penggarapan sawah, kendaraan sampai alat-alat elektronik rumah tangga, karena hampir semua daerahnya telah dialiri listrik. Bahkan tak jarang mereka menjadi para penyiar agama seperti Da’i, karena telah begitu banyaknya mereka naik haji.

Dou Mbojo (Orang Bima)
Dou Mbojo yang dikenal sekarang awalnya merupakan para pendatang yang berasal dari daerah-daerah sekitarnya seperti Makassar, Bugis, dengan mendiami daerah-daerah pesisir Bima. Mereka umumnya berbaur dengan masyarakat asli dan bahkan menikahi wanita-wanitanya. Para pendatang ini dating pada sekitar abad XIV, baik yang datang karena faktor ekonomi seperti berdagang maupun untuk menyiarkan agama sebagai mubaliqh. Mata pencaharian mereka cukup berfariasi seperti halnya bertani, berdagang, nelayan/pelaut dan sebagian lagi sebagai pejabat dan pegawai pemerintah.
Karena pada awalanya mereka adalah pendatang, pada beberapa generasi kemudian banyak juga yang merantau ke luar daerah untuk berbagai keperluan dan profesi seperti sebagai pegawai daerah, sekolah/kuliah, menjadi polisi/tentara, pedagang dan lain-lain. Umumnya mereka memiliki sifat ulet, mudah menyesuaikan diri dengan orang lain dan bahkan kasar. Hingga kini, beberapa daerah di Bima mewarisi sifat-sifat kasar ini seperti beberapa daerah (desa) di Kecamatan Sape, Wera dan Belo.

Orang Arab dan Melayu
Orang Melayu umumnya berasal dari Minangkabau dan daerah-daerah lain di Sumatera, baik sebagai pedagang maupun sebagai mubaliqh. Jumlah mereka termasuk minoritas, yang pada awalnya menempati daerah Bima pesisir Teluk Bima, Kampung Melayu dan Benteng. Terdorong oleh arus mobilitas penduduk yang cukup cepat, sekarang sebagian besar mereka telah membaur ke wilayah-wilayah pedalaman bersama masyarakat Bima lainnya. Orang Arab pun datang ke Bima sebagai pedagang dan mubaliqh. Awal kedatangan orang Arab umumnya sangat tertekan karena harus berhadapan dengan masyarakat Bima yang sudah cukup variatif. Mereka dianggap sebagai pendatang dari Arab, sebagai turunan Nabi. Akan tetapi, sekarang mereka telah diterima secara umum dan wajar, serta telah berbaur dengan masyarakat. Bahkan seiring dengan kuatnya pengaruh Islam melalui Hadirnya Kesultanan Bima, termasuk orang Melayu, sering dianggap istimewa karena biasanya pada masa Kesultanan Bima mereka diangkat sebagai Da’I dan pejabat hadat di seluruh pelosok tanah Bima.

Pendatang Lainnya
Para pendatang ini datang dengan latar belakang yang beragam, dengan menduduki berbagai profesi baik sebagai pejabat pemerintah, polisi/tentara, pedagang/pengusaha. Mereka datang dari Jawa, Madura, Ambon, Flores, Timor-Timur, Banjar, Bugis, Bali, Lombok yang kemudian membaur dan menikah dengan masyarakat Bima asli maupun dengan para pendatang lain. Orang Cina tak ketinggalan memiliki peran di Bima, yang umumnya berprofesi sebagai pedagang. Dari segi jumlah, orang Cina memang tergolong kecil namun karena mereka sangat gigih dan ulet, peran mereka dalam perekonomian Bima sangat signifikan.

Variasi Masyarakat Bima Berdasarkan Agama

Kepercayaan Makakamba - Makakimbi
Kepercayaan ini merupakan kepercayaan asli penduduk Dou Mbojo. Sebagai media penghubung manusia dengan alam lain dalam kepercayaan ini, diangkatlah seorang pemimpin yang dikenal dengan nama Ncuhi Ro Naka. Mereka percaya bahwa ada kekuatan yang mengatur segala kehidupan di alam ini, yang kemudian mereka sebut sebagai “Marafu”. Sebagai penguasa alam, Marafu dipercaya menguasai dan menduduki semua tempat seperti gunung, pohon rindang, batu besar, mata air, tempat-tempat-tempat dan barang-barang yang dianggap gaib atau bahkan matahari. Karena itu, mereka sering meminta manfaat terhadap benda-benda atau tempat-tempat tersebut. Selain itu, mereka juga percaya bahwa arwah para leluhur yang telah meninggal terutama arwah orang-orang yang mereka hormati selama hidup seperti Ncuhi, masih memiliki peran dan menguasai kehidupan dan keseharian mereka. Mereka percaya, arwah-arwah tersebut tinggal bersama Marafu di tempat-tempat tertentu yang dianggap gaib.
Masyarakat asli juga memiliki tradisi melalui ritual untuk menghormati arwah leluhur, dengan mengadakan upacara pemujaan pada saat-saat tertentu. Upacara tersebut disertai persembahan sesajen dan korban hewan ternak yang dipimpin oleh Ncuhi. Tempat-tempat pemujaan tersebut biasa dikenal dengan nama “Parafu Ra Pamboro”.

Agama Hindu
Sampai saat ini belum ada ilmuwan/sejarawan yang mengetahui secara pasti kapan agama Hindu memasuki tanah Bima. Dari sekian petunjuk peninggalan sejarah yang berupa prasasti maupun berbentuk monumen seperti prasasti Wadu Pa’a yang dipahat Sang Bima saat mengembara ke arah timur pada sekitar pertengahan abad VIII, bekas candi di Ncandi Monggo, prasasti Wadu Tunti di Rasabou Donggo, kuburan kuno Padende dan Sanggu di Pulau Sangiang, tidak meninggalkan informasi yang jelas tentang masuknya agama Hindu. Pengaruh agama Hindu dari Bali dan Lombok yang cukup besar tidak mampu menembus wilayah Bima, dan hanya bertahan di wilayah Dompu dan sebagian daerah Bolo.

Agama Kristen
Secara umum, Dou Mbojo tidak senang dengan kedatangan agama ini. Agama Kristen dianggap sebagai agama orang luar yang sangat berbeda dengan kenyataan hidup dan budaya mereka. Meskipun agama Kristen kurang mendapat angin segar dari Dou Mbojo, namun agama ini berhasil menyebar dan dianut oleh masyarakat pendatang lainnya seperti pendatang dari Timur, anggota polisi/tentara, serta pendatang dari Jawa dan Manado, yang awalnya mendiami daerah-daerah pesisir Bima dan kemudian sebagian kecil lagi memasuki daerah-daerah pedalaman. Akhir-akhir ini, tampaknya kegagalan sejarah tersebutlah yang kemudian memotivasi kembali kaum misionaris untuk melancarkan misinya ke daerah-daerah pelosok dan kepada masyarakat yang mendiami wilayah pegunungan dan tergolong terbelakang, melalui apa yang dikenal dengan program “Plan”. Namun, lagi-lagi misi ini bukan tak ada hambatan, karena kemudian Majelis Ulama Indonesia NTB melarang keberadaan mereka dengan segala aktivitasnya.

Agama Islam
Ada dua alasan utama kenapa agama Islam dapat lebih mudah diterima di Bima. Pertama, jauh-jauh waktu sebelum diberlakukannya secara resmi sebagai agama kerajaan, masyarakat Bima sudah lebih dulu mengenal agama Islam melalui para penyiar agama dari tanah Jawa, Melayu bahkan dari para pedagang Gujarat dari India dan Arab di Sape pada tahun 1609 M, yang awalnya dianut oleh masyarakat pesisir. Kedua, tentu saja peran yang penting adalah peralihan dari masa kerajaan kepada masa kesultanan yang kemudian secara resmi menjadikan agama Islam sebagai agama yang umum dianut oleh masyarakat Bima. Letak Bima yang strategis sangat mendukung sebagai jalur perdagangan antar daerah bahkan sebagai jalur transportasi perdagangan laut internasional, yang didukung dengan keberadaan Pelabuhan Sape.
Sebagai sultan pertama, diangkatlah Sultan Abdul Kahir pada tanggal 5 Juli 1620 M. Kehadiran sultan pertama ini memiliki pengaruh yang besar dan luas sehingga penyebaran agama Islam begitu cepat di seluruh pelosok tanah Bima, kecuali di daerah-daerah tertentu seperti di Donggo yang masih bertahan pada kepercayaan nenek moyang. Selain Donggo, Wawo juga termasuk sebagian daerahnya masih bertahan pada kepercayaan nenek moyang. Akan tetapi pada beberapa generasi berikutnya mereka mulai menerima Islam, karena makin sulitnya arus komunikasi terbatas internal yang mereka lakukan sesamanya serta makin meluasnya arus komunikasi masyarakat yang beragama Islam. Sekarang, bahkan di daerah-daerah yang dulu memegang kuat adat nenek moyang, hampir tidak dapat dibedakan antara Islam dengan budaya setempat.
Dalam kehidupan yang demikian Islami tersebut, muncul satu ikrar setia pada Islam dalam bentuk ikrar yang berbunyi “Mori ro made na Dou Mbojo ede kai hukum Islam-ku” yang berarti “Hidup dan matinya orang Bima harus dengan hukum Islam”. Untuk menguatkan ikrar ini, bahkan sejak masa kesultanan telah dibentuk sebuah majelis yang dikenal dengan Hadat Tanah Bima, yang bertugas dan bertanggung jawab selain sebagai sarana penyiaran dan penyebaran Islam juga sebagai penentu segala kebijakan kesultanan yang berdasarkan Islam dan kitabnya.
Penyebaran yang demikian pesat ini juga diiringi dengan berkembangnya berbagai pusat pendidikan dan pengajaran Islam, serta masjid-masjid selalu menghiasi di setiap desa dan kampung tanah Bima. Pusat-pusat pengajaran Islam tidak hanya berkembang melalui pesantren, bahkan berkembang dari rumah ke rumah, terbukti dengan menjamurnya tempat pengajian di rumah-rumah yang menggema dan melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran di setiap sore dan malam hari.
Pada masa kesultanan juga diperlakukan aturan yang bersendikan hukum Islam dengan mendirikan Badan Hukum Syara atau Mahkamah Tussara’iyah, yang mengirim pemuda-pemuda Bima untuk belajar memperdalam kaidah dan pengetahuan Islam ke Mekkah, Mesir, Istamul dan Bagdad serta negara-negara Arab lainnya. Bahkan telah diusahakan tanah wakaf di Mekkah untuk menjamu jamaah calon haji Dou Mbojo yang selalu membanjir setiap tahunnya untuk menunaikan ibadah haji.

Demikian dua model variasi masyarakat Bima yang kita lihat dan kenal sekarang. Meski demikian, pada perkembangan-perkembangan terakhir sebagaimana kenyataan yang dihadapi masyarakat Indonesia umumnya dengan semakin cepatnya arus modernisasi, kenyataan tersebut secara perlahan mengalami perubahan. Berbagai perubahan tersebut semakin memberi warna, baik putih maupun hitam, dalam beragam kehidupan dan keseharian masyarakat Bima.
Sebagai penutup, yang kita harapkan bersama semoga masyarakat Bima tetap memegang teguh pada nilai-nilai kearifan yang sudah tertanam sejak nenek moyang mereka, dan benar-benar menghayati serta mengamalkan petuah “Maja Labo Dahu, Nggahi Rawi Pahu” dan petuah-petuah lainnya kapan dan di manapun mereka berada. *(dari berbagai sumber)


SUMBER

Tuesday, January 16, 2007

Bima, Kota Pelabuhan lama di P. Sumbawa



Kota Bima adalah kota pelabuhan di pinggir teluk dan dikelilingi gunung. Di dalam catatan dua kronik (catatan sejarah) Jawa Kuno, Kota Bima sejak abad ke-14 yaitu Negarakertagama dan Pararaton (1365) Bima disebut sebagai pelabuhan laut kuno yang disinggahi oleh kapal-kapal Nusantara bahkan kapal-kapal perang Jerman dan Austria.

Abad ke-10 seorang penulis dari Portugis bernama Tome Pires menyebutkan daerah Bima sebagai tempat niaga yang ramai yang menghubungkan Malaka, Cina, Jawa dan Maluku. Dalam Dagregister Belanda disebut sebagai daerah perdagangan berbagai hasil bumi dan produk kerajaan seperti hasil hutan, pertanian berupa asam, kemiri, bawang, kacang, kopi, padi, kapas, teripang, garam, sarang burung, kain tenun dan lain sebagainya. Sebelum abad ke-14 daerah Bima belum merupakan kerajaan tetapi sudah mengenal tata cara pemerintahan dalam masyarakat yang bersuku-suku. Puncak sejarah adalah kedatangan utusan-utusan yang membawa agama Islam dari tanah Makassar yang berlabuh di Pelabuhan Bima. Agama Islam dibawa oleh Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro dari Makassar masuk ke Bima pada awal abad ke-17 dan kerajaan Bima menjadi kerajaan yang berlandaskan Islam dan kerajaan berubah menjadi Kesultanan.


SUMBER

Prof. Dr. Afan Gaffar


Beliau adalah profesor kelahiran Bima, terus terang bagi saya pribadi nama beliau serta informasi tentang beliau baru saya ketahui beberapa menit yang lalu. Berikut cuplikan informasi tentang beliau :

Prof. Dr. Afan Gaffar, Guru Besar Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) kelahiran Tente, Bima, Nusa Tenggara Barat, 21 Juni 1947, ini, walaupun bukan orang Jawa, terkenal sebagai orang yang sangat nJawani. Ia dikenal luas para tetangganya karena banyak bergaul dan sering keliling dengan naik motor. Dia secara mendadak meninggal dunia ketika hendak memangkas rambut di belakang rumahnya di Yogyakarta, Rabu (8/1/2003), sekitar pukul 14.00.


Ingin mengetahui lebih lanjut tentang beliau klik disini

Saturday, January 13, 2007

Gunung Tambora ( 2851 mdpl )


Nama kawah : Doro Afi Toi
Tipe : Strato dengan kaldera
Letak : Jazirah Sanggar, Kabupaten Bima - Pulau sumbawa
Tinggi : 2851 mdpl
Posisi Geografi : 80 - 15' LS dan 1180 - 00' BT

Gunung Tambora pada 5 April 1815 meletus dengan sangat dasyatnya hingga menewaskan sekitar 90.000 orang. Sekitar tiga tahun sebelum letusan penduduk Sanggar telah melihat adanya kegiatan yang sangat tinggi dari Gunung ini. Karena kedasyatannya hingga tercatat dalam sejarah dunia. Kehebatan letusannya tercatat sekitar 6 juta kali kekuatan bom atom. Suara letusan gunung ini terdengar sampai ke - Jakarta (1250 km) dan Ternate (1400 km). Hujan abu pertama jatuh di Besuki Jawa Timur. Pada 10 dan 11 April 1815 Suara letusan gunung Tambora terdengar sampai ke Pulau Bangka (1500 km) dan Bengkulu (1775 km) dan gempa bumi yang terjadi bersamaan dengan letusan gunung ini terdengar sampai ke Surabaya (600 km).

Sepanjang pesisir pantai Kerobih berupa batu karang yang bentuknya sangat indah memiliki relief alami. Bagian Selatan gunung Tambora adalah perbukitan dengan latar belakang pemandangan yang sangat indah.
Gunung ini berada di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat. Daerah ini dapat dijangkau dengan menggunakan pesawat udara dari Mataram, Lombok sekitar 1 jam menuju Bima. Dari Bima dapat ditempuh melalui darat menuju Dompu sekitar 60 km. Dari Dompu ke Kore berjarak 100 Km. Dari sini dengan speedboat menuju Labuhan Bili, dapat ditempuh sekitar 3 jam.

Pendakian Menuju Puncak
Untuk mencapai kaldera puncak gunung ini pendaki dapat memulai pendakian dari arah Barat Laut dimulai dari Labuan Kenanga. Dari tempat ini sampai ke Perkebunan Kopi Tambora yang letaknya berjarak 15 km. Keluar dari komplek perkebunan perjalanan terus melalui jalan setapak. Pendakian dari Perkebunan Kopi Tambora sampai ke puncaknya memakan waktu bervariasi tergantung jalur yang diambil selama perjalanan.
Selain dari Labuan Kenanga pendakian menuju puncak gunung ini dapat pula dilakukan dengan menggunakan lereng Timur gunung dimulai dari Oi Sengari. Dan jalur Selatan gunung ini pernah pula didaki oleh van Rheden seorang ahli Geologi.
Binatang yang hidup di sekitar gunung Tambora adalah rusa, babi hutan, sapi liar, kerbau, monyet, landak, biawak, musang, kura-kura, berbagai jenis burung seperti kakaktua kepala putih, nuri merah, ayam hutan, elang, gagak, dll.


SUMBER

Gunung Sangeang Api

Compiler : Dedi Mulyadi
Editor : Mas Atje Purbawinata, Asnawir Nasution

Keterangan Umum
Nama Gunungapi : G. Sangeang Api
Nama Lain : Sangeang, Gunungapi dekat Bima
Nama Kawah : Kawah utama : Kawah Solo (Doro Undo), kawah Oi atau kawah Berano (Doro Api atau Karubu) dan Doro Mantoi
Kawah tambahan : Parasit Dewa Mboko pada pelana, Doro Ego (Kusumadinata, 1967) anak Dewa Toi di lereng selatan Doro Mantoi.
Lokasi Geografis: 08�11'LS dan 119o03,5�BT (Atlas Trop Nederi, 1939, lembar 27).
Secara administrasi terletak di Kecamatan Wera Timur, Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat
Ketinggian : dml : Doro Api, + 1949m (Atlas Trop.Nederi), Doro Mantoi, + 1795m (Kuenen, p.291)
Kota Terdekat : Wera Timur dengan nama kota Bima
Tipe Gunungapi: Strato kembar

Pendahuluan
Cara pencapaian
Pendakian pada umumnya adalah dari kampung Toroponda, dari Sori buntu lewat padang alang - alang yang landai, hingga di Lare di Sori Belanda (Sungai kecil dan kering).
Satu jam kemudian berturut - turut di capai Luna (lapangan lama) dan setelah itu Watu Pela Ma Awa (Batu Ceper Bawah). Jalannya kemudian menghilang dan sedikit naik memasuki semak belukar, hingga satu jam kemudian dicapai Watu Pela Ma EA (Batu ceper atas), Sebuah padang alang - alang pada ketinggian 580 M. Setelah itu dicapai Kampo Kara dan Mamba Karana, kemudian memotong ke utara lewat lahar lama yang sudah lepas - lepas dan mesuk Mamba Mengi (990M), sebuah undak yang rapat di tumbuhi pohon hutan. Pendakian kini mulai langsung lurus menuju Dewa Mboko, pelana antara Doro Api dan Doro Mantoi. Jalan sudah tidak dapat di lihat lagi dan hanya di tandai di sana sini oleh bekas rintisan jalan, dari orang yang mendaki sebelumnya. Tanpa kesukaran yang berarti sampailah pada lereng yang terbuka, ialah Mamba Kawangge.
Kemudian mengikuti aliran lava lama dari kawah Dewa Mboko, yang terbuka ke jurusan sini bagaikan sepatu kuda hingga di pelana antara Doro Mantoi dan Doro Api. Pendakian dari pelan yang luas ini ke puncak Doro Api maupun Doro Mantoi memakan waktu lk Satu jam. Jalan setapak yang sesungguhnya tidak ada dan dapat di pilih sendiri.

Demografi
Kependudukan di kawasan ini sejak tahun 1985 telah di kosongkan yaitu di transmigrasikan ke Sangeang darat (Kecamatan Wera). Transmigrasi pertama setelah letusan tahun 1953 dan sisanya setelah letusan tahun 1985 sebanyak 263 kk, dengan diberi lahan 1 Ha/kk. Namun keadaan sekarang lahan yang di tinggalkan sudah dijadikan tempat ladang dengan membuat rumah sementara ( Salaya ) terutama pada bulan musim tanam ( Agustus - November ) dan musim panen (Maret - April).
Penghuni musiman tersebut berasal dari penduduk asli yang ia tinggalkan sejak tahun 1953 dan 1985 yang secara umum terakumulasi di Toroponda sebanyak 53 kk, Danggo 25 kk dan kampung Sangeng 45 kk. Penduduk yang menempati salaya ( Rumah sementara ) yang termasuk kawasan rawan III terdapat Joro Sangeang yang di huni sekitar 45 kk.
Penggunaan lahan di kawasan rawan ini merupakan kawasan hutan lindung dan kawasan hutan cagar alam dengan jenis lahan berupa hutan heterogen, alang - alang dan sebagian ladang penduduk. Mata pencaharian selain bertani adalah berlayar ( Jasa Transportasi antar pulau ) dan berdagang.

Inventarisasi Sumberdaya Gunungapi
Umumnya di daerah G. Sangeang Api mempunyai sumber dayanya adalah pasir, batu, sirtu, sangat melmpah, yang di pergunakan oleh penduduk setempat sebagai bahan bangunan.
Umumnya tanahnya sangat subur dan merupakan daerah penghasil sayur mayur dan buah - buahan

Wisata Pulau Sangeang
Kawasan ini selain berpotensi dikembangkan menjadi wisata alam pegunungan juga bias dikembangkan sebagai kawasan wisata pantai. Keindahan pemandangan pantai yang alamiah juga ditunjang adanya sumber mata air panas di Oi Pana Manangga dan mata air panas Oi Kalo yang bersuhu antara 36 derajat sampai 39 derajat celcius. Juga pantai di kawasan ini merupakan jalur transportasi Mataram - P Komodo (Flores) dan sebagai tempat singgah untuk mengisi bahan bakar.
Akan tetapi lingkungan di sekitar pantai terutama karang - karang laut telah mengalami kerusakan akibat penangkapan ikan disekitar pantai dengan menggunakan bahan peledak.


Daftar acuan
Data dasar gunung api Indonesia, oleh Kusumadinata, K . 1979
Laporan Pemantauan / Pengawasan Daerah Bahaya Gunung Api Sangeang Api di Kec. Wera Timur, Kab. Bima NTB, oleh Rahmat, H dkk. Tahun 1998

Lebih Lanjut Baca Disini

Busana Pengantin Mbojo, Bima, Nusa Tenggara Barat


Busana pengantin pria : bula - tutup kepala, pasangi baju lengan panjang dan celana panjang, siki - kain songket setinggi lutut, saba - sabuk, salipe - ikat pinggang diikatkan pada saba sampari - keris, pasapu - sapu tangan diikatkan pada keris.

Busana pengantin wanita : wange tata rias rambut dihiasi karaba - gabah padi digoreng tanpa minyak diikatkan pada wange, samu-utu-u - sanggul, jungge - tusuk sanggul atau konde jungge cina - bentuk kembang goyang - jungge cempaka - bentuk bunga - jungge dondo - dari emas dihias manik-manik, bangka dondo - hiasan telinga, baju poro, tembe sangke - kain songket, jima - gelang tangan, jima ancu hiasan lengan, salipe - ikat pinggang, pasapu - sapu tangan.


SUMBER

Monday, January 8, 2007

PAD Kota Bima Akhir 2006, 77 Persen

Kota Bima, Sumbawanews.com.-
Hingga 31 Desember 2006 lalu, pencapaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bima sebanyak Rp4,7 miliar dari target Rp6,1 miliar atau sekitar 77 persen.
Untuk pencapaian PAD 2006 setiap satuan kerja (Satker), BPKD target Rp2,6 miliar, realisasi Rp2,3 milyar (90,51 persen), Sekretariat Daerah (Setda) target Rp735 juta, realisasi Rp566 juta (77, 00 persen), Dinas Kimpraswil target Rp769 juta, tercapai Rp437 juta (55,78), Dinas Dikbudpar target Rp400 juta tercapai Rp308 juta (77,22 persen).
Selain itu, Dinas Kesehatan (Dikes) target Rp234 juta, tercapai Rp288 juta (123,78 persen), Dinas Perhubungan (Dishub) target Rp488 juta, tercapai Rp228 (46,74 persen) dan Dinas Tata Kota dan Kebersihan, target Rp457 juta, tercapai Rp216 juta (47,22 persen).

Menurut Kepala Bidang Pendapatan Badan Pengelolah Keuangan Daerah (BPKD), Syafrudin, BA, kendala pencapaian PAD karena rendahnya kesadaran masyarakat untuk membayar wajib pajak di sektor pemerintahan dan pihak swasta.
Selain itu, ada beberapa potensi yang belum dimanfaatkan, seperti kawasan Ama Hami dan jembatan timbang belum ditarik retribusi pajak selama tahun 2006.
“Namun, untuk tahun 2007 kita akan mulai dimanfaatkan melalui penarikan retribusi wajib pajak,” katanya di kantor BPKD, Kamis (4/12).
Untuk meningkatkan pembayaran target PAD, Syafrudin merencanakan tahun depan akan diupayakan sosialisasi perorangan secara langsung saat menagih pajak.
Diakuinya, pencapaian PAD tahun 2006 meningkat sekitar 11 persen dari tahun 2005 dan itu berkat kerja keras petugas penagih. (BE.09)


SUMBER

Upacara Hanta U’a Pua Dihidupkan kembali

UPACARA adat Hanta U’a Pua yang diselenggarakan kembali, memberikan arti tersendiri bagi masyarakat Bima terutama Majelis Adat Dana Mbojo. Menurut Hj. Siti Maryam, ketua Majelis Adat ini, sejak tahun 1950-an saat peralihan pemerintahan dari Kesultanan menjadi Pemerintahan Swapraja, kegiatan ini terhenti dan tidak mampu sepenuhnya dihidupkan kembali.
Usaha menghidupkan kembali tradisi ini bukannya tidak pernah dicoba, namun terbentur kendala karena situasi politik yang menggesek, tarik ulur. “Pernah dicoba sekali tahun 1980-an dan sekali tahun 1990-an, serta tahun 2003 lalu,” kata Siti Maryam.

Diselenggarakannya lagi tradisi Hanta U’a Pua kali ini, menurutnya, merupakan pertanda baik karena mendapat sambutan positif masyarakat maupun pemerintah. Kelihatannya masyarakat Bima tampak lebih antusias kali ini, ujarnya. Bagi Majelis Adat Dana Mbojo, melestarikan nilai budaya asli Bima yang dirayakan masyarakat Bima secara umum merupakan salah satu agenda penting yang harus segera dibenahi dari segi kualitas maupun kuantitasnya. “Sejarah jangan sampai putus. Ini kekayaan yang tidak bisa dinilai dengan materi,” kata budayawati yang kini berkosentrasi menulis sejarah Bima pada masa lampau ini.
Jika tidak dihidupkan kembali, tuturnya, mana mungkin orang Bima terutama yang masih muda-muda tahu sejarah dan tradisi daerahnya. Contoh, kenapa di Bima ada Kampung Melayu? Ini penting diketahui sebagai modal wawasan budaya anak-anak muda, bukan sekadar ingin mengenalkan istana dan kesultanan, katanya. Pada zamannya dulu, Kesultanan Bima pernah menjadi salah satu kerajaan berpengaruh di Indonesia dan dikenal hingga Eropa.
Kampung Melayu di tengah Kota Bima sekarang, dulunya merupakan tempat khusus sebagai hadiah pemberian raja kepada para datuk dan rombongan orang-orang Melayu yang mengantar Islam masuk ke Bima. Kini, keturunan orang Melayu asli yang mendiami tempat tersebut tidak lagi banyak, hanya sekitar 50 KK, kata H.Muhammad Ibrahim, Penghulu Melayu yang ke 60-an, yang kini menjadi pemimpin bagi orang-orang Melayu di Bima. Tiap peringatan Hanta U’a Pua, dari kampung sederhana inilah Uma Lige menjadi pusat perhatian khalayak yang sengaja memenuhi ruas-ruas jalan tempat mereka lewat, untuk mengantarkan U’a Pua kepada raja muda di istana tua Kesultanan Bima.
U’a Pua, dalam bahasa Melayu disebut “Sirih Puan” merupakan satu rumpun “tangkai bunga telur” berwarna warni yang dimasukkan dalam satu wadah segi empat berjumlah 99 tangkai yang disimbolkan sebagai Asma’ul Husna dan di tengahnya terdapat sebuah Al Quran. Sebuah rumah mahligai yang biasa disebut Uma Lige berukuran 4 X 4 meter2 terbuka dari empat sisinya beratap dua susun. Di dalamnya, tampak jelas disaksikan puluhan ribu pasang mata di sepanjang jalan, empat perempuan menari Lenggo Mbojo dan empat laki-laki menari Lenggo Melayu, melenggak lenggok menebar senyum sembari mendampingi Penghulu Melayu, memasuki arena mengantar U’a Pua. -nik
Saat Upacara Peralatan
Kesultanan Dikeluarkan

APRIL 2006, tradisi Kesultanan Bima berupa Hanta U’a Pua mulai digelar lagi. Puluhan ribu orang memadati halaman depan istana tua Kesultanan Bima sejak pagi. Mereka datang dari berbagai penjuru Kota dan Kabupaten Bima, untuk menyaksikan tradisi langka yang berangkat dari peringatan Maulud Nabi Muhammad dan peringatan masuknya Islam di Tanah Bima, ratusan tahun lalu. Berbondong-bondong, tua muda bahkan mereka yang telah sepuh seolah menumpahkan nostalgia, datang dan duduk di depan halaman Istana Raja menanti saat-saat peringatan tiba. “Sejak pukul 06.00, saya duduk di sini,” ungkap seorang nenek yang usianya lebih dari 70 tahun.
Ia bercerita, dulu, sebelum tahun 1950-an, ia bersama orangtua, saudara dan tetangganya masih bisa menikmati hikmadnya peringatan Hanta U’a Pua. “Ramai sekali, jauh lebih ramai dari sekarang ini,” ungkapnya. Ia menambahkan, di sekitar istana tersebut orang-orang berdesakan, antri untuk bisa melihat kuda-kuda jantan yang gagah, penari Lenggo juga Uma Lige (mahligai) tempat Sirih Puan yang dipikul ratusan prajurit istana. Nenek ini, dengan mata berbinar, dengan seksama mengikuti satu per satu acara yang disuguhkan hingga prosesi adat tersebut usai. “Meski prosesinya tidak lagi seperti dulu, saya puas menontonnya,” tuturnya mengantar langkah ringkihnya pulang.
Hanta U’a Pua, setidaknya mengobati kerinduan si nenek yang pada masa lalu kejayaan Kesultanan Bima sangat ia banggakan. Kembalinya tradisi U’a Pua ini disambut gembira bukan hanya oleh si nenek, namun juga masyarakat Bima dan petinggi-petinggi adat yang saat itu tampil lengkap dengan pakaian kebesaran Kesultanan Bima yang disebut Siki Lanta. Acara ini, menghadirkan kesan tradisi yang cukup kental karena hampir seluruh undangan mengenakan pakaian adat Bima maupun pakaian adat khusus yang biasa dikenakan pada masa Kesultanan Bima. “Sebagian besar peralatan Kesultanan Bima dikeluarkan pada upacara ini untuk disaksikan khalayak,” kata Siti Maryam.
Musik tradisional mengiring sepanjang acara berlangsung. Simbol-simbol tradisi makin menguatkan dan memberi roh masa lalu yang patut terus dipertahankan sebagai sebuah tradisi yang cukup unik. “Rencananya, kegiatan ini akan diselenggarakan tiap tahun,” ungkap Hj. Siti Maryam Sultan Salahuddin, putri Sultan Salahuddin dari Kesultanan Bima ini. -nik
Tangkai Unik Bunga Dolu
Diyakini Membawa Berkah

DI salah satu jalan utama kota Bima, kuda-kuda jantan yang disebut Jara Wera (Kuda Wera), Jara Sara’u (Kuda Kesultanan) mengiringi orang-orang Melayu sebagai tamu kehormatan dalam acara tersebut dan juga Mahligae (Uma Lige) berukuran besar yang membawa Penghulu Melayu, tengah melintas di hadapan masyarakat Bima yang memenuhi bibir kiri dan kanan sepanjang jalur yang dilewatinya.
Rombongan ini selangkah demi selangkah menuju halaman depan istana tua Kesultanan Bima. Di sana para pejabat dan petinggi adat serta puluhan ribu penonton yang memenuhi sekitar istana, menanti kehadirannya. Beberapa saat kemudian, sepuluh kuda jantan yang disebut Jara Wera memecah suasana hikmad, masuk memperagakan ketagguhannya, berputar-putar mengitari arena dengan penunggangnya yang cekatan. Menurut Hj. Siti Maryam, dulu para penunggang tersebut merupakan pendekar yang menunjukkan jalan serta mengantar para datuk dari Makasar yang datang ke Bima lewat Teluk Bima ketika pertama kali mengenalkan ajaran Islam. Kemudian kuda-kuda ini berlalu diiringi irama tambur yang menderu-deru.
Beberapa saat kemudian Jara Sara’u (pasukan berkuda kerajaan) diikuti pasukan tentara kerajaan lengkap dengan pakaian kebesaran prajurit memasuki halaman istana. “Kuda ini cukup tangkas,” kata Siti Maryam. Dulu, katanya, kuda yang ditunggangi pasukan berkuda dan tentara kerajaan pandai menari sambil berjalan. Kuda-kuda berbadan tinggi tegap tersebut menari mengikuti irama tambur yang ditabuh bertalu-talu. Teriakan-teriakan dan hentakan semangat yang dipandu para penunggang kuda, mengundang tepuk riuh tangan penonton yang larut dalam kekaguman saat menyaksikan tradisi nenek moyangnya itu. Diiringi gemuruh tepuk tangan, Jara Sara’u meninggalkan arena pertanda tugasnya mengawal Uma Lige masuk halaman istana telah berakhir.
Dari pintu halaman istana, rombongan laki-laki, perempuan, anak-anak, tua dan muda, memasuki arena. “Mereka tamu kehormatan dalam acara tersebut,” kata Siti Maryam. Mereka adalah orang-orang keturunan Melayu yang hidup dan hingga kini menjadi bagian dari masyarakat dan adat istiadat Bima. Dalam acara tersebut, mereka mempunyai tempat tersendiri yang sudah disiapkan di bagian kiri panggung kehormatan. Di sana tertulis dengan jelas, ‘Keluarga Melayu’.
Di belakang rombongan ini, sebuah rumah terbuka yang disebut Uma Lige yang di atasnya terdapat Penghulu Melayu dan delapan orang penari yakni empat perempuan yang menari Lenggo Mbojo dan empat laki-laki yang menari Lenggo Melayu, mendampingi Penghulu yang kelihatannya telah sepuh. Juga bunga dolu berjumlah 99 tangkai didampingi bunga male. “Mereka mengantar Sirih Puan untuk diserahkan kepada Jena Teke (raja muda),” ujar Siti Maryam. Dulu, Uma Lige tersebut diangkat ratusan orang yang berebut satu sama lain untuk memperoleh kesempatan menjadi pemanggul.
Setelah Sirih Puan diserahkan kepada Jena Teke Kesultanan Bima, Ferry Zulkarnaen, suasana riuh mulai terdengar. Dari tiap sudut panggung kebesaran, tamu undangan maupun warga masyarakat yang menonton menyerbu bunga dolu dan bunga male. Ratusan orang yang kebetulan mampu berada di barisan paling depan berebut mendapatkannya. “Ini simbol membagi berkah kepada rakyat,” ujar Siti Maryam. Siapa yang berhasil mendapatkan bunga dolu dalam acara rebutan, diyakini mampu membawa berkah. “Ini untuk anak saya, semoga cepat dapat jodoh,” tutur Hafsah, seorang ibu dengan napas tersengal-sengal usai berdesakan dengan ratusan orang. Namun ia mengaku senang dan bangga bisa menjadi salah seorang yang berhasil membawa pulang tangkai unik tersebut. –nik


Oleh arixs

SUMBER

Saturday, January 6, 2007

UU NO. 13 THN 2002

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG
PEMBENTUKAN KOTA BIMA DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

Kota Administratif Bima dengan luas wilayah keseluruhan mencapai 22.225 km2, yang merupakan bagian dari Kabupaten Bima sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II Dalam wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, telah menunjukkan perkembangan yang pesat, khususnya di bidang pelaksanaan pembangunan dan peningkatan jumlah penduduk, yang pada tahun 1996 berjumlah 101.933 jiwa dan pada tahun 2000 menjadi 111.489 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 2,3 % per tahun. Hal ini mengakibatkan bertambahnya beban tugas dan volume kerja dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan kemasyarakatan.

Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya peningkatan di bidang penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan kemasyarakatan dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di wilayah Kota Administratif Bima Kabupaten Bima, sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 1998 tentang Pembentukan Kota Administratif Bima.

Secara geografis, wilayah Kota Administratif Bima mempunyai kedudukan strategis, baik dari segi ekonomi maupun sosial budaya. Dari segi potensi industri dan perdagangan, perhubungan, serta pariwisata, Kota Administratif Bima mempunyai prospek yang baik bagi pemenuhan kebutuhan pasar di dalam dan luar negeri.

Berdasarkan hal tersebut di atas dan memperhatikan aspirasi masyarakat yang berkembang dan selanjutnya dituangkan secara formal dalam Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Bima tanggal 22 Pebruari 2001 Nomor 03 Tahun 2001 tentang Persetujuan Peningkatan Status Kota Adminisratif Bima Menjadi Pemerintah Daerah Kota dan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat tanggal 15 Maret 2001 Nomor 01/KPTS/DPRD/2001 tentang Persetujuan Peningkatan Status Pemerintah Kota Administratif Bima Menjadi Pemerintah Kota Bima, wilayah Kota Administratif Bima yang meliputi Kecamatan Asakota, Kecamatan RasanaE Barat, dan Kecamatan RasanaE Timur.

Dalam rangka mengembangkan wilayah dan potensi yang dimiliki Kota Bima serta memenuhi kebutuhan pada masa yang akan datang, terutama dalam hal peningkatan sarana dan prasarana serta kesatuan perencanaan dan pembinaan wilayah, maka Sistem Tata Ruang Wilayah Kota Bima harus dioptimalkan penataannya serta dikonsolidasikan jaringan sarana dan prasarananya dalam satu sistem kesatuan pengembangan terpadu dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan kabupaten lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya Kabupaten Bima. (PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2002 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA BIMA DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT)


DOWNLOAD UU NO. 13 TAHUN 2002

Mungkinkah Bima Jadi Kota Transit ?

Judul di atas diambil dari Bali Post Online

untuk berita selengkapnya Baca Disini

REFERENSI SEJARAH

Bima, pernah merupakan sebuah kerajaan yang swapraja selama lima atau enam abad sebelum lahirnya Republik Indonesia. Sejarah kerajaan Bima hanya diketahui secara dangkal, disebabkan terutama karena pemerintah Belanda boleh dikatakan tidak menaruh minat terhadap Bima, asal keamanan dan ketertiban tidak terganggu. Dua sumber lain dapat ikut menjelaskan perkembangan sejarah Bima.

Pertama, ilmu arkeologi yang selama ini hanya mengungkapkan segelintir peninggalan yang terpisah-pisah. Namun ilmu arkeologi itulah yang barangkali akan berhasil menentukan patokan-patokan kronologi terpenting dari masa prasejarah sampai masa Islam. Kedua, sejumlah dokumen dalam bahasa Melayu yang ditulis di Bima antara abad ke-17 sampai dengan abad 20. Bahasa Bima merupakan bahasa setempat yang dipakai sehari-hari di Kabupaten Bima dan Dompu (nggahi Mbojo). Bahasa tersebut jarang, dan sejak masa yang relatif muda, digunakan secara tertulis. Beberapa teks lama yang masih tersimpan dalam bahasa tersebut, tertulis dalam bahasa Arab atau Latin. Tiga jenis aksara asli Bima pernah dikemukakan oleh pengamat-pengamat asing pada abad ke-19, tetapi kita tidak mempunyai contoh satu pun yang membuktikan bahwa aksara tersebut pernah dipakai. Oleh karena itu bahasa Bima rupanya tidak pernah menjadi bahasa tertulis yang umum di daerah tersebut. Pada jaman dahulu, bahasa lain pernah digunakan. Dua prasasti telah ditemukan di sebelah barat Teluk Bima, satu agaknya dalam bahasa Sanskerta, yang lain dalam bahasa Jawa kuno. Selanjutnya bahasa Makassar dan bahasa Arab kadang-kadang dipakai juga. Ternyata sejak abad ke-17 kebanyakan dokumen tersebut resmi ditulis di Bima dalam Bahasa Melayu.

Tulisan di atas dikutip dari buku Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah, karya Henry Chambert-Loir penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2004.