Saturday, March 31, 2007

Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora

(Roorda van Eysinga, 1841, II, hlm. 37-40)

Bahwa ini pada menyatakan ceritera daripada Negeri Tambora yang dimurkai Allah Subhanahu wa Taala, maka jadi binasa Negeri Tambora sekarang ini.
Sebermula ada seorang Said Idrus, asalnya dari Bengkulu, ialah menumpang kepada orang Bugis, singgah di Negeri Tambora berniaga. Maka ada suatu hari maka Tuan Said Idrus naik ke darat, masuk dalam negeri besar berjalan-jalan pesiar sampai waktu lohor, maka ia masuk dalam masjid sembahyang. Maka didapatnya ada di dalam mesjid itu anjing, maka disuruh usir ke luar anjing, disuruh pukul. maka orang yang jaga anjing itu marah, maka berkata orang yang jaga anjing itu, "Raja kami yang empunya anjing itu". Maka Tuan Said itu pun berkata, "Baik siapa yang punya anjing, karena ini mesjid, Allah Subhanahu wa Taala yang empunya rumah ini. Siapa yang memasukkan anjing di dalam mesjid, orang itu kafir". Maka orang yang jaga anjing itu pergi mengadu kepada Raja Tambora, mengatakan "Ada seorang tuan-tuan Arab mengatakan kita ini orang Tambora dikatakan kafir, sebab didapatnya ada anjing dalam mesjid".
Setelah Raja Tambora mendengar perkataan itu, maka Raja Tambora itu pun amarah, kemudian Raja Tambora menyuruh memotong anjing itu dengan kambing, maka disuruh penggil orang Arab itu. Maka Tuan Said Idrus itu pun datang di rumah Raja Tambora dengan segala wazir Tambora. Setelah selesai daripada orang-orang Tambora sekalian duduk, maka hidangan nasi ditaruh ke hadapan orang banyak, dengan satu hidangan yang berisi daging anjing itulah dihadapannya Tuan Said; hidangan yang isi daging kambing di hadapan orang baik dengan raja Tambora.
Maka makanlah sekalian orang. setelah sudah makan, maka Raja Tambora itu pun bertanya kepada Tuan Said itu, katanya Raja Tambora, "Hai Arab! Sebagaimana kau katakan haram anjing?" Maka Tuan SAid itupun menyahut kata Raja itu, "Ya, haram". Maka Raja Tambora itu pun berkata, "Jikalau engkau katakan haram, mengapa engkau makan tadi itu anjing?" Maka Tuan Said itu pun menyahut kata Raja itu, "Bukannya anjing saya makan ini tadi, saya makan daging kambing". Sebagaimana bicaranya, jadi berbantah Raja Tambora dengan Tuan Said, maka Raja Tambora pun amarahlah kepada Tuan Said itu. Maka Raja Tambora itu pun menyuruhkan orangnya, "Bawa olehmu orang Arab ini bunuh". Maka orang itu pun memegang tangan Tuan Said itu antara beberapa orang, maka dibawanya naik ke Gunung Tambora. Setelah sampai di atas Gunung Tambora itu, maka orang yang membawa Tuan Said itu ditikam dengan senjata dan dengan tombak, maka Tuan Said itu pun tiada boleh dimakan senjata itu. Maka orang itu pun menghela kayu, ada yang mengambil batu, ada yang melontar, ada yang memukul kepada Tuan Said itu, maka dimasukkan ke dalam goa itu. Kemudian maka orang itu pun pulanglah, hendak menyampaikan itu kepada Raja. Antara negeri dengan gunung itu orang yang datang membunuh Tuang Said itu, maka menyala api di gunung, tempat di mana Tuan Said dibunuh itu. Maka api itu pun [makin] besar, baik kayu, baik batu, baik bumi semuanya menyala. Maka api itu pun mengikut pada orang yang datang membunuh Said itu, maka orang itu pun larilah semuanya hendak lari masuk negeri besar, maka api itu pun duluan menyala dalam negeri itu. Maka gemparlah segala isi negeri Tambora, masing-masing mencarikan dirinya kehidupan. Maka daripada sebab kebesaran Allah Subhanahu wa Taala, maka api itu pun di mana orang lari, api pun mengikuti, orang yang lari ke laut, api pun mengikut ke laut, sampai lautan Tambora pun menyala. sampai berapa-berapa hari menyala api di gunung, di negeri, di lautan, di bumi. Maka kelam kabut daripada hujan abu itu, suatu pun tiada lepas manusia isi Negeri Tambora, berapa-berapa ribu orang mati terbakar itu. Antara berapa hari api menyala, belum padam api di gunung, Negeri Tambora pun tenggelam, menjadi lautan, sampai sekarang ini kapal boleh berlabuh di mana bekas Negeri Tambora adanya.

Syahdan maka bekas negeri-negeri yang satu tanah Negeri Tambora itu pun semuanya kena bala, yang sebelah barat Negeri Tambora itu Negeri Sumbawa, yang sebelah timur Negeri Tambora itu Negeri Sanggara dan Negeri Papekat, dan Dompo, dan Negeri Bima, masih membawa dirinya kepada Gouvernement adanya. Semuanya negeri itu ada yang bagi dua, ada yang bagi tiga keluar orangnya dengan sebab kelaparan, ada yang mati. Manusia yang hidup masing-masing pergi di mana-mana mengikut orang dagang, asal boleh dapat makan, ada yang menjual dirinya pada temannya ditukar sama padi.
Syahdan di negeri di Sumbawa sehingga Pinggalang dalam hujan abu segala binatang mati sebab tertunu di abu. Tiga tahun diada boleh mengerjakan tempat padi. Ada lebih selaksa orang Sumbawa mati dan yang meninggalkan negerinya adanya.
Dan sebagai lagi di Negeri Mengkasar dan di Negeri Bugis, tatkala terbakar Negeri Tambora, sehari semalam gelap hujan abu antero Negeri Bugis Mengkasar, tetapi itu waktu tanah yang kurus menjadi gemuk di Bugis Mengkasar.
Tiada berapa lamanya sudah terbakar Negeri Tambora, maka ada suatu hari maka darang air besar dari tiga ombak besar, dari selatan datangnya itu ombak, maka tujuh negeri kecil tenggelam, perahu dagang yang ada berlabuh di situ semuanya dibawa ombak naik di hutan.

Sumber : Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah, karya Henry Chambert-Loir penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2004.

Alamat Pecah Gunung Tambora

(Bo'Sangaji Kai, hlm. naskah 87; Chambert Loir & Salahuddin 1999, hlm. 319)

Hijrat Nabi salla'llahi 'alaihi wa sallama seribu dua ratus tiga puluh genap tahun, tahun Za pada hari Selasa waktu subuh sehari bulan Jumadilawal (yaitu hari selasa, 11 April 1815), tatkala itulah Tanah Bima datanglah takdir Allah melakukan kodrat iradat atas hamba-Nya. Maka gelap lagi berbalik lebih daripada malam itu, kemudian maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turunlah kersik batu dan abu seperti dituang, lamanya tiga hari dua malam. Maka heranlah sekalian hamba-Nya akan melihat karunia Rabil al-alamin yang melakukan fa'al li-mayurid. Setelah itu maka datanglah hari, maka melihat rumah dan tanaman sudah rusak semuanya. Demikian adanya itu, yaitu pecah Gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad.

Sumber : Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah, karya Henry Chambert-Loir penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2004.

Saturday, March 10, 2007

APLIKASI TEKNOLOGI USAHA PERLEBAHAN DALAM MENDORONG PENGEMBANGAN LEBAH ALAM DI KABUPATEN BIMA PROPINSI NTB

Rosafina Pane

Madu dari Sumbawa termasuk Kabupaten Bima Propinsi NTB, telah terkenal dari sejak dahulu. Usaha ini sampai sekarang masih dikelola secara tradisional dengan jalan berburu lebah. Dipandang dari segi ekonomis usaha ini tidak menguntungkan bahkan akan mengakibatkan kerugian besar dengan rusaknya lingkungan. Pengembangan suatu usaha dikatakan layak apabila ekonomis nilainya menguntungkan. Kelayakan ekonomis suatu usaha tergantung pada nilai input dan outputnya. Dengan lebih besarnya nilai output dari input baru dapat dikatakan usaha tersebut secara ekonomis berhasil. Madu yang diperoleh dengan jalan berburu lebah dapat merusak lingkungan tidak hanya habitat serangga/lebah juga tanam-tanaman. Kebanyakan pohon tempat sarang lebah adalah tanaman yang jarang maupun langka. Didalam meningkatkan nilai output dari usaha ini terdapat beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan untuk dikembangkan yakni sumber daya manusia dan teknologi, sumber daya alam dan lingkungan, sarana dan prasarana serta kelembagaan sebagai faktor pendorong/pendukung. Dari hasil studi dan pemantauan secara visual dilapangan dari tahun 1993-1995 dilihat potensi dan peluang pengembangan Usaha Perlebahan cukup besar. Melihat potensi dan peluang yang cukup besar BPP Teknologi dalam hal ini Direktorat TPSLK – TPSA bekerjasama dengan Pemda Kab. Bima c/q Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan dilakukan Aplikasi Teknologi Usaha Perlebahan. Usaha ini disamping meningkatkan potensi sumberdaya alam secara ekonomis juga bertujuan untuk menggali sumberdaya alam sekaligus melestarikan lingkungan. Lokasi usaha perlebahan dilakukan disekitar hutan agar lebah mudah beradaptasi. Perkembangan Usaha Perlebahan sampai sekarang masih belum seperti yang diharapkan, hanya perburuan lebah telah berkurang otomatis perusakan hutan juga berkurang. meningkatkan pendapatandan keselamatan pemburu Iebah. Disamping itu meningkatkan pendapatan daerah, membuka kesempatan kerja dan minimum dapat menghemat devisa .

Pengembangan Usaha Perlebahan di Kec. Monta Kab. Bima Prop. NTB cukup potensial melihat potensi dan peluang yang dimiliki cukup besar. Dari 40 kotak lebah yang ditangkap dihutan untuk cikal bakal pembibitan ± 35% dapat diternakan secara sederhana. Dilihat secara visual dan hasil pengamatan swarmingnya Iebah disebabkan pengetahuan pengelola masih rendah sedangkan tanam-tanaman sebagai pakan Iebah cukup potensial demikian pula halnya dengan bibit Iebah. Pengetahuan petani/pemburu lebah perlu ditingkatkan baik didalam pengelolaan lebah maupun pengemasan hasil-hasilnya. Informasi tentang perlebahan maupun manfaat hasilnya melalui TVRI, Radio, Majalah, buku-buku masih terbatas perlu ditingkatkan. Dengan mengelola usaha perlebahan secara teknis keuntungan yang diperoleh tidak hanya melestarikan Iingkungan juga meningkatkan pendapatan dan keselamatan pemburu lebah. Disamping itu meningkatkan pendapatan daerah, membuka kesempatan kerja dan minimum dapat menghemat devisa.


SUMBER

DOWNLOAD MAKALAH LENGKAP

PENELITIAN VULKANOLOGI ATAU PENELITIAN ARKEOLOGI YANG TERJADI DI DAERAH LERENG GUNUNG TAMBORA?

Berikut petikan tulisan dengan judul "PENELITIAN VULKANOLOGI ATAU PENELITIAN ARKEOLOGI YANG TERJADI DI DAERAH LERENG GUNUNG TAMBORA?" yang ditulis oleh Bambang Budi Utomo,Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Pada tanggal 1 Maret 2006, seorang sahabat di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) mendapat e-mail dari seorang teman yang menanyakan “Apakah ada peradaban/ kebudayaan Mon-Khmer pada waktu letusan Gunung Tambora tahun 1815?” Sahabat itu kemudian bertanya kepada saya, karena dia kurang mengetahui kebudayaan itu. Awalnya Pada awalnya saya kurang antusias, namun setelah menyadari bahwa pertanyaan itu timbul setelah dilakukan ekskavasi di daerah sekitar lereng Gunung Tambora dan menemukan sisa permukiman masa lampau, saya mulai antusias dan timbul pertanyaan tentang siapa, darimana, dan kapan ekskavasi itu dilakukan.
Secara kebetulan, saya membaca surat kabar REPUBLIKA tanggal 1 Maret 2006 halaman 1 di pojok kiri atas tertulis judul berita kecil, tetapi cukup menarik "Tambora, Pompeii dari Timur”. Diberitakan tentang adanya penelitian vulkanologi oleh peneliti dari Amerika Serikat yang menemukan sisa kota yang tertimbun lahar letusan Gunung Tambora. Kemudian pada malam harinya saya membuka internet mencari subyek “Tambora.” Dari internet saya memperoleh banyak informasi tentang penelitian vulkanologi di Tambora.
Penelitian vulkanologi Gunung Tambora dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson, seorang pakar vulkanologi dari Rhode Island University Amerika, yang sedang menekuni fenomena Tambora sejak 20 tahun lalu. Beberapa kali ia datang ke Indonesia dalam rangka meneliti, dan dalam kunjungannya pada tahun 2004 - setelah mendapat informasi dari penduduk lokal yang pernah disewanya - bahwa sekitar 25 km di sebelah Barat gunung ditemukan benda-benda kuna. Ia menjajagi sebuah parit yang memotong deposit batuan dan abu vulkanik setebal sekitar 3 meter. Di situ ia melihat sisa-sisa pemukiman berupa pecahan tembikar dan kayu yang terkarbonisasi. Dengan bantuan radar, ia berhasil melokalisir adanya sisa bangunan yang tertimbun lapisan vulkanik setebal tiga meter dan kemudian menggalinya. Dari penggaliannya itu, selain berhasil menampakkan denah rumah, ia menemukan balok-balok kayu yang terkarbonisasi, tembikar, keramik, peralatan rumah tangga dan perhiasan dari logam perunggu, dan yang paling menarik adalah 2 kerangka manusia yang utuh; semuanya berkonteks dengan bangunan.


Sungguh merupakan suatu kewajaran apabila ilmuwan volkanologi dari seluruh dunia tertarik pada letusan Gunung Tambora. Gunung api yang tingginya +2821 meter d.p.l ini sepanjang sejarah umat manusia, tercatat pernah meletus sehebat-hebatnya pada 12-14 April 1815. Kedahsyatan letusan diceriterakan oleh Khatib Lukman dalam Syair Kerajaan Bima (ditulis tahun 1830):
“Hijrat Nabi saw. 1230 pada hari Selasa waktu subuh sehari bulan Jumadilawal tatkala tanah Bima datang takdir Allah melakukan kodrat iradat atas hamba-Nya. Maka gelap berbalik lagi lebih daripada malam itu, kemudian maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turun lahar segala batu dan abu seperti dituang, lamanya dua tiga hari dua malam.......... Demikianlah adanya, yaitu pecah gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad”

Demikianlah peristiwa meletusnya Gunung Tambora seperti yang ditulis dalam syair sejarah tersebut. Korban harta benda dan manusia demikian banyak. Tepat sebelum Tambora meletus Zollinger, peneliti Belanda tahun 1800-an memperkirakan seluruh Sumbawa berpenduduk 170.200 jiwa, masing-masing 90.000 di Kerajaan Bima, 60.000 di Kerajaan Sumbawa, 10.000 di Kerajaan Dompo, 6.000 di Kerajaan Tambora, 2.200 di Kerajaan Sanggar, dan 2.000 di Kerajaan Papekat. Menurut penulis itu pula, jumlah penduduk tersebut berkurang lebih dari separuhnya sebagai akibat bencana Tambora.
Pokok persoalannya bukan pada berapa banyak yang mati, dan berapa luas kerusakan yang diakibatkannya. Letusan yang hebat sudah jelas menimbulkan dampak yang luas dan berlangsung cukup lama, sekurang-kurangnya lebih dari lima tahun untuk pemulihannya. Ada dua hal yang saya persoalkan, yaitu kesimpulan tentang adanya peradaban Mon-Khmer dan keabsahan penelitiannya.

1. Sedikit Ulasan

Sejak abad ke-19 Nusantara telah menarik perhatian para orientalis asal Eropa, terutama yang berkebangsaan Inggris dan Belanda. Mereka datang ke Nusantara dengan membonceng politik penjajahan pemerintahnya. Di antara ilmuwan orientalis itu ada yang datang ke Sumbawa. Di pulau itu mereka bertemu dengan penduduk yang menurutnya berujar dengan bahasa mirip dengan bahasa Mon-Khmer, bahasa yang tidak lazim digunakan oleh penduduk nusantara.

The civilization on Sumbawa Island has intrigued researchers ever since Dutch and British explorers visited in the early 1800s and were surprised to hear a language that did not sound like any other spoken in Indonesia, Prof Sigurdsson said. Some scholars believe the language was more like those spoken in Indochina. But not long after westerners first encountered Tambora, the society was destroyed (Guardian, 1 Maret 2006).

Cerita yang entah dibaca dari buku apa, dipercaya betul oleh Sigurdsson. Belum lagi sempat diteliti oleh kaum orientalis di masa lampau, kelompok masyarakat itu terlanjur habis disapu letusan Tambora. Sisa-sisa peradaban kelompok masyarakat itulah yang ditemukan Sigurdsson.


Gunung Tambora dengan kepundannya yang terbentuk akibat letusan 1815 (kiri atas); Cara penggalian yang dilakukan oleh tim volkanologi yang tidak mengikuti kaidah penggalian arkeologis (kanan atas); Temuan tembikar lokal hasil penggalian (kiri bawah); Jenis-jenis artefak yang ditemukan antara lain berupa keramik (guci, buli-buli, piring, dan mangkuk), perunggu (nampan), dan tembikar (pasu) (kanan bawah) (Sumber foto: URI News Bureau).

Sebagai seorang ahli vulkanologi bagaimana ia mengkaitkan temuan tersebut dengan masyarakat pendukung budaya Mon-Khmer? Rupanya, ia menggabungkan antara cerita kaum orientalis di masa lampau dengan temuan tembikar dari Tambora yang mempunyai kesamaan dengan tembikar dari kawasan Indocina. Tentu saja simpulannya itu sangat diragukan. Bisa saja tembikar itu ada di Tambora karena pada masa itu ada perantara hubungan dagang dengan kawasan Vietnam, seperti tanggapan John N. Miksic dari Institute of South-East Asia Studies, National University of Singapore. Para pedagang yang berlaku sebagai perantara pada waktu itu biasanya orang Tionghoa, Melayu, atau bahkan orang Eropa sendiri yang membawa barang dagangannya dari Vietnam sampai di Sumbawa.

Sigurdsson tidak menjelaskan di daerah mana orientalis Eropa itu bertemu dengan penduduk yang bahasanya mirip dengan bahasa Indocina, dan saya tidak mendapat informasi di mana dia melakukan penggalian. Dalam New York Times hanya disebutkan di daerah lereng sekitar tiga mil dari pantai. Asumsinya, daerah tersebut dimukimi agar jauh dari gangguan lanun (?) yang sering terjadi di perairan Sumbawa. Biasanya para pedagang atau pendatang asing mendatangi pelabuhan yang ada penduduknya dan terletak di jalur pelayaran. Sumbawa yang termasuk dalam wilayah sebelah Timur nusantara memang termasuk dalam jalur pelayaran. Jalur pelayaran di wilayah ini berkembang setelah kedatangan orang Eropa di nusantara, yaitu sejak abad ke-16.

Di Pulau Sumbawa sendiri pada sekitar abad ke-18-19 sekurang-kurangnya terdapat enam buah kerajaan Islam, yaitu Sumbawa, Bima, Dompu, Tambora, Sanggar dan Pekat. Dari enam kerajaan itu, kerajaan yang paling berpengaruh adalah Kerajaan Bima yang wilayahnya di sebelah Timur Pulau Sumbawa. Penjajah Belanda lebih sering berurusan dengan Kerajaan Bima. Tidak mustahil, ketika Gunung Tambora meletus dari enam kerajaan itu maka kerajaan Tambora, Pekat dan mungkin Sanggar yang hancur karena letaknya di sekitar lereng gunung. Tiga kerajaan lain tidak sampai musnah tetapi rusak berat. Saat itu kerajaan Bima diperintah oleh Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah (1773-1817). Data tertulis mengenai Kerajaan Tambora belum saya temukan, sehingga tidak diketahui bagaimana keadaan kerajaan itu ketika sebelum dan setelah letusan hebat terjadi.

Simpulan lain yang sesungguhnya sangat “menyesatkan” adalah musnahnya masyarakat pendukung peradaban/ budaya Mon-Khmer, sebagaimana dikemukakan oleh Sigurdsson:
If Tambora is indeed like Pompeii, which was buried in an instant by the erupting Mount Vesuvius, the scientist said, "All the people, their houses and culture are still encapsulated there as they were in 1815."

Saya katakan “menyesatkan”, karena tidak mungkin suatu kebudayaan atau bahkan peradaban dapat musnah di sebuah pulau yang bukan pulau gunung api. Kalau batas budaya kita ambil sebuah pulau, maka seluruh Pulau Sumbawa itu merupakan satu wilayah budaya. Dapat saja sekelompok masyarakat pendukung budaya Sumbawa musnah karena mereka bertempat tinggal di pusat letusan yang terlanda aliran lava. Kelompok masyarakat pendukung budaya Sumbawa yang lain dapat selamat dari kehancuran karena jauh dari pusat letusan atau mengungsi ke tempat yang aman.

Dapat saya ambil contoh adalah letusan Gunung Merapi pada masa Kerajaan Mataram Kuna di Jawa Tengah. Van Bemmelen, seorang ahli geologi memperkirakan letusan itu sangat hebat sampai sepertiga dari puncaknya hilang. Terjadi pergeseran tanah ke arah Barat Daya sehingga terjadi lipatan yang antara lain membentuk Gunung Gendol karena gerakan tanah itu tertahan pada lempengan Pegunungan Menoreh. Sudah barang tentu letusan itu dibarengi dengan gempa bumi yang hebat, hujan abu dan batu-batuan yang sangat hebat. Bencana alam ini mungkin merusak ibukota Kerajaan Mataram (Medang) serta merusak permukiman di Jawa Tengah, sehingga oleh rakyat dirasakan sebagai pralaya atau kehancuran dunia.

Di ibukota kerajaan tinggal raja dan kerabatnya, petinggi kerajaan, dan rakyat. Tentu saja mereka mengungsi ke arah timur karena gempa yang terhebat melanda daerah sebelah Barat Daya Gunung Merapi. Di sebelah Timur merupakan tempat yang aman dan di situ pula ada penguasa daerah yang tunduk pada Mataram. Di situlah pada perempat abad ke-10 Masehi, Sindok (raja Mataram) membangun ibu kota yang baru. Sesuai dengan landasan kosmologis kerajaan, maka kerajaan yang baru itu dianggap sebagai dunia baru, dengan tempat-tempat pemujaan yang baru, dan diperintah oleh wangsa yang baru.
Dari contoh meletusnya Gunung Merapi pada awal abad ke-10 tersebut, dapat ditarik suatu simpulan bahwa bencana alam hebat tidak selalu memusnahkan suatu kebudayaan. Mungkin bisa saja musnah apabila kebudayaan itu terdapat di sebuah pulau gunung api. Peradaban Mataram tidak musnah karena orang-orangnya menyingkir dari daerah bencana. Dalam kasus meletusnya Tambora, mungkin dapat disamakan dengan meletusnya Gunung Sumbing, seperti yang diuraikan dalam Prasasti Rukam (19 Okt. 907). Pada waktu gunung tersebut meletus dengan hebat pada sekitar awal abad ke-10, beberapa desa dan bangunan suci terkubur dalam lahar. Itupun tidak memusnahkan peradaban Mataram. Dengan demikian, yang terkubur dalam puing letusan hebat Gunung Tambora mungkin saja masyarakat sebuah desa. Melihat jenis temuan ada yang barang import, masyarakatnya sudah maju dan telah mengenal perdagangan jarak jauh. Mengenai apakah mereka kelompok masyarakat yang berbudaya Mon-Khmer atau yang sekurang-kurangnya yang berbahasa Mon-Khmer, saya belum berani menjawabnya.

Letusan hebat Gunung Tambora dalam Syair Kerajaan Bima yang ditulis tahun 1830 oleh Khatib Lukman, seorang ulama Kerajaan Bima, melukiskan bahwa:

“Hujan abu selama dua hari tiga malam, disusul bunyi meriam yang rupanya menandai keruntuhan kawah, disusul lagi hujan pasir dan empoh laut. Sebabnya disangka akibat tindakan jahat Sultan Abdul Gafur. Kerajaan Pekat dan Tambora binasa. Malapetaka itu berakhir berkat orang sembahyang, tetapi kemelaratan, kelaparan dan penyakit tidak tertolong. Banyak orang yang mati karena makan daun dan ubi yang beracun ............... namun kehidupan politik serta kenegaraan Bima tetap terpelihara. Berbagai upacara adat dan tradisi tentang kehidupan istana dan umumnya kehidupan masyarakat tetap dijalankan seperti sebelum terjadi bencana.”

Seorang Eropa yang singgah di Bima tahun 1831 menceriterakan hal yang senada dengan yang dituliskan dalam Syair Kerajaan Bima:
“Letusan Gunung Tambora berakibat dahsyat: tanah tertutup abu setebal dua kaki selama lima hari, banyak rumah yang rusak, dan semua tanaman binasa. Tanah tidak dapat digarap selama lima tahun. Terjadi kepalaran besar; beras didatangkan dari Jawa. Orang demikian sengsara, semua ikatan keluarga terputus; ada suami menjual istrinya, ada ibu menjual anaknya untuk ditukar dengan segenggam makanan; orang melarat mati di jalan; banyak orang yang mengungsi keluar pulau dan negeri sekitarnya. Tanah mulai digarap lagi dengan lamban dan sukar”

Meskipun sumber tertulis namanya Syair Kerajaan Bima, namun secara umum yang diceriterakan keadaan suluruh Sumbawa, terutama pada bagian yang melukiskan keadaan pada waktu sebelum dan setelah Tambora meletus. Disebutkan bahwa Sultan Tambora Abdul Gafur adalah raja yang takabur. Ia membunuh Haji Mustafa orang asing asal Rum (Turki). Karena perbuatannya itulah maka Allah menurunkan azab berupa letusan hebat Gunung Tambora.

Dari sumber-sumber tertulis tentang Tambora, tidak sedikitpun yang menguraikan adanya penduduk yang bertutur seperti tutur dalam bahasa di Indocina. Mereka hanya menyebutkan orang-orang yang datang dari daerah sekitarnya, seperti dari Jawa, Bali, Sulawesi, dan Timor. Kalaupun ada orang asing, maka mereka yang datang berasal dari Eropa, khususnya Belanda dan Inggris. Sebagian besar masyarakat bertutur menurut bahasa lokal yang masih serumpun dengan bahasa Austronesia. Mungkin dalam hubungan antarabangsa mereka menggunakan bahasa Melayu yang pada waktu itu pemakaiannya cukup merata di nusantara.

2. Keabsahan Penelitian

“Penelitian Arkeologi” yang dilakukan oleh sekelompok peneliti vulkanologi dari Amerika Serikat bekerja sama dengan Direktorat Vulkanologi tentu saja menimbulkan pertanyaan di kalangan peneliti arkeologi Indonesia yang bekerja di Puslitbang Arkenas, Balai Arkeologi, dan mungkin juga Jurusan Arkeologi di universitas. Bukankah yang “mempunyai otoritas” penelitian arkeologi ada pada Puslitbang Arkenas? Kalaupun ada pihak asing yang melakukan penelitian arkeologi, tentunya terikat dengan ikatan kerja sama antar lembaga penelitian arkeologi.

Dalam kasus penelitian yang dilakukan oleh Sigurdsson, para petinggi di pusat dan di daerah tidak mengetahui kegiatan tersebut. Ini berarti penelitian arkeologi tersebut dilakukan secara "liar”. Kalau mereka melakukan penelitian vulkanologi dapat dikatakan legal, tetapi apabila menemukan indikator arkeologis seharusnya mereka segera melaporkannya kepada institusi kebudayaan atau arkeologi terdekat, misalnya BP-3 di Gianyar, Balai Arkeologi Denpasar, atau Dinas Budpar.

Ada indikasi bahwa mereka “sengaja” melakukan penelitian arkeologi seperti yang tersirat dalam kalimat “sudah sekitar 20 tahun mencermati lokasi yang tengah digalinya”. Tanpa berburuk sangka pada tim tersebut, mungkin saja mereka tidak tahu kemana ijin untuk penelitian arkeologi dimintakan, dan kemana ijin penggalian dimintakan. Tentunya ke Puslitbang Arkenas dan ke Direktorat Purbakala dan Permuseuman, Ditjen Sejarah dan Purbakala.

Saya melihat ada kejanggalan dari penelitian vulkanologi tersebut, yaitu keterlibatannya arkeolog Indonesia, seperti yang diberitakan dalam The New York Times, 28 Februari 2006:
Dr. Sigurdsson said in a phone interview that Indonesian archaeologists had examined the artifacts and were planning systematic excavations this year. Their first impression of the material suggested that the Tamboran culture was linked by ancestry or trade to Vietnam and Cambodia. Other archaeologists have yet to assess the find (nytimes.com).

Kebenaran berita adanya peneliti arkeologi Indonesia dalam tim tersebut telah saya tanyakan pada Kapuslitbang Arkenas dan Kabalar Denpasar. Diakui memang ada tim yang melakukan penelitian ke wilayah Sumbawa, yaitu ke Dompu (tenggara Gunung Tambora). Penelitian tersebut memang merupakan salah satu kegiatan penelitian Puslitbang Arkenas tahun 2006.

3. Penutup

Penelitian vulkanologi seperti yang dilakukan oleh tim dari Rhode Island University belum berakhir. Tahun 2007 tim tersebut akan kembali dengan membawa peralatan yang lebih canggih, seperti yang dikemukakan dalam The New York Times:
Next year, Dr. Sigurdsson expects to extend the radar survey, searching for traces of the rest of Tambora and perhaps the king's house.
Sementara itu, institusi yang berkompeten di bidang penelitian arkeologi seolah-olah diabaikan begitu saja. Kabarnya ijin penelitian ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga tidak dimintakan, sebagaimana dikemukakan oleh Neni Sintawardani dari LIPI. Saya belum mengkorfirmasikan pada Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi (BPPT), apakah tim penelitian tersebut meminta ijin penelitian atau tidak.

Sebagai penutup dari uraian singkat ini dapat saya kemukakan beberapa hal:

1. Mengingat data yang dikumpulkan tim vulkanologi tersebut masih terlalu minim untuk menjelaskan tentang kebudayaan apalagi peradaban, saya belum berani memastikan budaya apa yang berkembang pada masa sebelum meletusnya Gunung Tambora. Apalagi saya tidak tahu seberapa luas areal yang digali untuk menemukan sisa permukiman yang terkubur puing hasil letusan.
2. Tim peneliti vulkanologi tersebut terlalu berani menyimpulkan bahwa akibat letusan hebat Gunung Tambora pada tahun 1815 sebuah peradaban telah lenyap. Buktinya Syair Kerajaan Bima menyebutkan pemerintahan kerajaan tetap berjalan. Pulau Sumbawa bukan merupakan pulau gunungapi seperti Hawaii dan Krakatau yang dimukimi oleh masyarakat dengan budaya tersendiri. Contoh meletusnya Gunung Merapi dan Merbabu pada abad ke-10 Masehi tidak melenyapkan peradaban Mataram. Dengan demikian, apabila di Sumbawa terdapat sebuah peradaban, maka masyarakat pendukung peradaban itu akan mengungsi ke tempat yang aman.


Bambang Budi Utomo,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional

SUMBER