Saturday, March 10, 2007

PENELITIAN VULKANOLOGI ATAU PENELITIAN ARKEOLOGI YANG TERJADI DI DAERAH LERENG GUNUNG TAMBORA?

Berikut petikan tulisan dengan judul "PENELITIAN VULKANOLOGI ATAU PENELITIAN ARKEOLOGI YANG TERJADI DI DAERAH LERENG GUNUNG TAMBORA?" yang ditulis oleh Bambang Budi Utomo,Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.

Pada tanggal 1 Maret 2006, seorang sahabat di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslitbang Arkenas) mendapat e-mail dari seorang teman yang menanyakan “Apakah ada peradaban/ kebudayaan Mon-Khmer pada waktu letusan Gunung Tambora tahun 1815?” Sahabat itu kemudian bertanya kepada saya, karena dia kurang mengetahui kebudayaan itu. Awalnya Pada awalnya saya kurang antusias, namun setelah menyadari bahwa pertanyaan itu timbul setelah dilakukan ekskavasi di daerah sekitar lereng Gunung Tambora dan menemukan sisa permukiman masa lampau, saya mulai antusias dan timbul pertanyaan tentang siapa, darimana, dan kapan ekskavasi itu dilakukan.
Secara kebetulan, saya membaca surat kabar REPUBLIKA tanggal 1 Maret 2006 halaman 1 di pojok kiri atas tertulis judul berita kecil, tetapi cukup menarik "Tambora, Pompeii dari Timur”. Diberitakan tentang adanya penelitian vulkanologi oleh peneliti dari Amerika Serikat yang menemukan sisa kota yang tertimbun lahar letusan Gunung Tambora. Kemudian pada malam harinya saya membuka internet mencari subyek “Tambora.” Dari internet saya memperoleh banyak informasi tentang penelitian vulkanologi di Tambora.
Penelitian vulkanologi Gunung Tambora dipimpin oleh Haraldur Sigurdsson, seorang pakar vulkanologi dari Rhode Island University Amerika, yang sedang menekuni fenomena Tambora sejak 20 tahun lalu. Beberapa kali ia datang ke Indonesia dalam rangka meneliti, dan dalam kunjungannya pada tahun 2004 - setelah mendapat informasi dari penduduk lokal yang pernah disewanya - bahwa sekitar 25 km di sebelah Barat gunung ditemukan benda-benda kuna. Ia menjajagi sebuah parit yang memotong deposit batuan dan abu vulkanik setebal sekitar 3 meter. Di situ ia melihat sisa-sisa pemukiman berupa pecahan tembikar dan kayu yang terkarbonisasi. Dengan bantuan radar, ia berhasil melokalisir adanya sisa bangunan yang tertimbun lapisan vulkanik setebal tiga meter dan kemudian menggalinya. Dari penggaliannya itu, selain berhasil menampakkan denah rumah, ia menemukan balok-balok kayu yang terkarbonisasi, tembikar, keramik, peralatan rumah tangga dan perhiasan dari logam perunggu, dan yang paling menarik adalah 2 kerangka manusia yang utuh; semuanya berkonteks dengan bangunan.


Sungguh merupakan suatu kewajaran apabila ilmuwan volkanologi dari seluruh dunia tertarik pada letusan Gunung Tambora. Gunung api yang tingginya +2821 meter d.p.l ini sepanjang sejarah umat manusia, tercatat pernah meletus sehebat-hebatnya pada 12-14 April 1815. Kedahsyatan letusan diceriterakan oleh Khatib Lukman dalam Syair Kerajaan Bima (ditulis tahun 1830):
“Hijrat Nabi saw. 1230 pada hari Selasa waktu subuh sehari bulan Jumadilawal tatkala tanah Bima datang takdir Allah melakukan kodrat iradat atas hamba-Nya. Maka gelap berbalik lagi lebih daripada malam itu, kemudian maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turun lahar segala batu dan abu seperti dituang, lamanya dua tiga hari dua malam.......... Demikianlah adanya, yaitu pecah gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad”

Demikianlah peristiwa meletusnya Gunung Tambora seperti yang ditulis dalam syair sejarah tersebut. Korban harta benda dan manusia demikian banyak. Tepat sebelum Tambora meletus Zollinger, peneliti Belanda tahun 1800-an memperkirakan seluruh Sumbawa berpenduduk 170.200 jiwa, masing-masing 90.000 di Kerajaan Bima, 60.000 di Kerajaan Sumbawa, 10.000 di Kerajaan Dompo, 6.000 di Kerajaan Tambora, 2.200 di Kerajaan Sanggar, dan 2.000 di Kerajaan Papekat. Menurut penulis itu pula, jumlah penduduk tersebut berkurang lebih dari separuhnya sebagai akibat bencana Tambora.
Pokok persoalannya bukan pada berapa banyak yang mati, dan berapa luas kerusakan yang diakibatkannya. Letusan yang hebat sudah jelas menimbulkan dampak yang luas dan berlangsung cukup lama, sekurang-kurangnya lebih dari lima tahun untuk pemulihannya. Ada dua hal yang saya persoalkan, yaitu kesimpulan tentang adanya peradaban Mon-Khmer dan keabsahan penelitiannya.

1. Sedikit Ulasan

Sejak abad ke-19 Nusantara telah menarik perhatian para orientalis asal Eropa, terutama yang berkebangsaan Inggris dan Belanda. Mereka datang ke Nusantara dengan membonceng politik penjajahan pemerintahnya. Di antara ilmuwan orientalis itu ada yang datang ke Sumbawa. Di pulau itu mereka bertemu dengan penduduk yang menurutnya berujar dengan bahasa mirip dengan bahasa Mon-Khmer, bahasa yang tidak lazim digunakan oleh penduduk nusantara.

The civilization on Sumbawa Island has intrigued researchers ever since Dutch and British explorers visited in the early 1800s and were surprised to hear a language that did not sound like any other spoken in Indonesia, Prof Sigurdsson said. Some scholars believe the language was more like those spoken in Indochina. But not long after westerners first encountered Tambora, the society was destroyed (Guardian, 1 Maret 2006).

Cerita yang entah dibaca dari buku apa, dipercaya betul oleh Sigurdsson. Belum lagi sempat diteliti oleh kaum orientalis di masa lampau, kelompok masyarakat itu terlanjur habis disapu letusan Tambora. Sisa-sisa peradaban kelompok masyarakat itulah yang ditemukan Sigurdsson.


Gunung Tambora dengan kepundannya yang terbentuk akibat letusan 1815 (kiri atas); Cara penggalian yang dilakukan oleh tim volkanologi yang tidak mengikuti kaidah penggalian arkeologis (kanan atas); Temuan tembikar lokal hasil penggalian (kiri bawah); Jenis-jenis artefak yang ditemukan antara lain berupa keramik (guci, buli-buli, piring, dan mangkuk), perunggu (nampan), dan tembikar (pasu) (kanan bawah) (Sumber foto: URI News Bureau).

Sebagai seorang ahli vulkanologi bagaimana ia mengkaitkan temuan tersebut dengan masyarakat pendukung budaya Mon-Khmer? Rupanya, ia menggabungkan antara cerita kaum orientalis di masa lampau dengan temuan tembikar dari Tambora yang mempunyai kesamaan dengan tembikar dari kawasan Indocina. Tentu saja simpulannya itu sangat diragukan. Bisa saja tembikar itu ada di Tambora karena pada masa itu ada perantara hubungan dagang dengan kawasan Vietnam, seperti tanggapan John N. Miksic dari Institute of South-East Asia Studies, National University of Singapore. Para pedagang yang berlaku sebagai perantara pada waktu itu biasanya orang Tionghoa, Melayu, atau bahkan orang Eropa sendiri yang membawa barang dagangannya dari Vietnam sampai di Sumbawa.

Sigurdsson tidak menjelaskan di daerah mana orientalis Eropa itu bertemu dengan penduduk yang bahasanya mirip dengan bahasa Indocina, dan saya tidak mendapat informasi di mana dia melakukan penggalian. Dalam New York Times hanya disebutkan di daerah lereng sekitar tiga mil dari pantai. Asumsinya, daerah tersebut dimukimi agar jauh dari gangguan lanun (?) yang sering terjadi di perairan Sumbawa. Biasanya para pedagang atau pendatang asing mendatangi pelabuhan yang ada penduduknya dan terletak di jalur pelayaran. Sumbawa yang termasuk dalam wilayah sebelah Timur nusantara memang termasuk dalam jalur pelayaran. Jalur pelayaran di wilayah ini berkembang setelah kedatangan orang Eropa di nusantara, yaitu sejak abad ke-16.

Di Pulau Sumbawa sendiri pada sekitar abad ke-18-19 sekurang-kurangnya terdapat enam buah kerajaan Islam, yaitu Sumbawa, Bima, Dompu, Tambora, Sanggar dan Pekat. Dari enam kerajaan itu, kerajaan yang paling berpengaruh adalah Kerajaan Bima yang wilayahnya di sebelah Timur Pulau Sumbawa. Penjajah Belanda lebih sering berurusan dengan Kerajaan Bima. Tidak mustahil, ketika Gunung Tambora meletus dari enam kerajaan itu maka kerajaan Tambora, Pekat dan mungkin Sanggar yang hancur karena letaknya di sekitar lereng gunung. Tiga kerajaan lain tidak sampai musnah tetapi rusak berat. Saat itu kerajaan Bima diperintah oleh Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah (1773-1817). Data tertulis mengenai Kerajaan Tambora belum saya temukan, sehingga tidak diketahui bagaimana keadaan kerajaan itu ketika sebelum dan setelah letusan hebat terjadi.

Simpulan lain yang sesungguhnya sangat “menyesatkan” adalah musnahnya masyarakat pendukung peradaban/ budaya Mon-Khmer, sebagaimana dikemukakan oleh Sigurdsson:
If Tambora is indeed like Pompeii, which was buried in an instant by the erupting Mount Vesuvius, the scientist said, "All the people, their houses and culture are still encapsulated there as they were in 1815."

Saya katakan “menyesatkan”, karena tidak mungkin suatu kebudayaan atau bahkan peradaban dapat musnah di sebuah pulau yang bukan pulau gunung api. Kalau batas budaya kita ambil sebuah pulau, maka seluruh Pulau Sumbawa itu merupakan satu wilayah budaya. Dapat saja sekelompok masyarakat pendukung budaya Sumbawa musnah karena mereka bertempat tinggal di pusat letusan yang terlanda aliran lava. Kelompok masyarakat pendukung budaya Sumbawa yang lain dapat selamat dari kehancuran karena jauh dari pusat letusan atau mengungsi ke tempat yang aman.

Dapat saya ambil contoh adalah letusan Gunung Merapi pada masa Kerajaan Mataram Kuna di Jawa Tengah. Van Bemmelen, seorang ahli geologi memperkirakan letusan itu sangat hebat sampai sepertiga dari puncaknya hilang. Terjadi pergeseran tanah ke arah Barat Daya sehingga terjadi lipatan yang antara lain membentuk Gunung Gendol karena gerakan tanah itu tertahan pada lempengan Pegunungan Menoreh. Sudah barang tentu letusan itu dibarengi dengan gempa bumi yang hebat, hujan abu dan batu-batuan yang sangat hebat. Bencana alam ini mungkin merusak ibukota Kerajaan Mataram (Medang) serta merusak permukiman di Jawa Tengah, sehingga oleh rakyat dirasakan sebagai pralaya atau kehancuran dunia.

Di ibukota kerajaan tinggal raja dan kerabatnya, petinggi kerajaan, dan rakyat. Tentu saja mereka mengungsi ke arah timur karena gempa yang terhebat melanda daerah sebelah Barat Daya Gunung Merapi. Di sebelah Timur merupakan tempat yang aman dan di situ pula ada penguasa daerah yang tunduk pada Mataram. Di situlah pada perempat abad ke-10 Masehi, Sindok (raja Mataram) membangun ibu kota yang baru. Sesuai dengan landasan kosmologis kerajaan, maka kerajaan yang baru itu dianggap sebagai dunia baru, dengan tempat-tempat pemujaan yang baru, dan diperintah oleh wangsa yang baru.
Dari contoh meletusnya Gunung Merapi pada awal abad ke-10 tersebut, dapat ditarik suatu simpulan bahwa bencana alam hebat tidak selalu memusnahkan suatu kebudayaan. Mungkin bisa saja musnah apabila kebudayaan itu terdapat di sebuah pulau gunung api. Peradaban Mataram tidak musnah karena orang-orangnya menyingkir dari daerah bencana. Dalam kasus meletusnya Tambora, mungkin dapat disamakan dengan meletusnya Gunung Sumbing, seperti yang diuraikan dalam Prasasti Rukam (19 Okt. 907). Pada waktu gunung tersebut meletus dengan hebat pada sekitar awal abad ke-10, beberapa desa dan bangunan suci terkubur dalam lahar. Itupun tidak memusnahkan peradaban Mataram. Dengan demikian, yang terkubur dalam puing letusan hebat Gunung Tambora mungkin saja masyarakat sebuah desa. Melihat jenis temuan ada yang barang import, masyarakatnya sudah maju dan telah mengenal perdagangan jarak jauh. Mengenai apakah mereka kelompok masyarakat yang berbudaya Mon-Khmer atau yang sekurang-kurangnya yang berbahasa Mon-Khmer, saya belum berani menjawabnya.

Letusan hebat Gunung Tambora dalam Syair Kerajaan Bima yang ditulis tahun 1830 oleh Khatib Lukman, seorang ulama Kerajaan Bima, melukiskan bahwa:

“Hujan abu selama dua hari tiga malam, disusul bunyi meriam yang rupanya menandai keruntuhan kawah, disusul lagi hujan pasir dan empoh laut. Sebabnya disangka akibat tindakan jahat Sultan Abdul Gafur. Kerajaan Pekat dan Tambora binasa. Malapetaka itu berakhir berkat orang sembahyang, tetapi kemelaratan, kelaparan dan penyakit tidak tertolong. Banyak orang yang mati karena makan daun dan ubi yang beracun ............... namun kehidupan politik serta kenegaraan Bima tetap terpelihara. Berbagai upacara adat dan tradisi tentang kehidupan istana dan umumnya kehidupan masyarakat tetap dijalankan seperti sebelum terjadi bencana.”

Seorang Eropa yang singgah di Bima tahun 1831 menceriterakan hal yang senada dengan yang dituliskan dalam Syair Kerajaan Bima:
“Letusan Gunung Tambora berakibat dahsyat: tanah tertutup abu setebal dua kaki selama lima hari, banyak rumah yang rusak, dan semua tanaman binasa. Tanah tidak dapat digarap selama lima tahun. Terjadi kepalaran besar; beras didatangkan dari Jawa. Orang demikian sengsara, semua ikatan keluarga terputus; ada suami menjual istrinya, ada ibu menjual anaknya untuk ditukar dengan segenggam makanan; orang melarat mati di jalan; banyak orang yang mengungsi keluar pulau dan negeri sekitarnya. Tanah mulai digarap lagi dengan lamban dan sukar”

Meskipun sumber tertulis namanya Syair Kerajaan Bima, namun secara umum yang diceriterakan keadaan suluruh Sumbawa, terutama pada bagian yang melukiskan keadaan pada waktu sebelum dan setelah Tambora meletus. Disebutkan bahwa Sultan Tambora Abdul Gafur adalah raja yang takabur. Ia membunuh Haji Mustafa orang asing asal Rum (Turki). Karena perbuatannya itulah maka Allah menurunkan azab berupa letusan hebat Gunung Tambora.

Dari sumber-sumber tertulis tentang Tambora, tidak sedikitpun yang menguraikan adanya penduduk yang bertutur seperti tutur dalam bahasa di Indocina. Mereka hanya menyebutkan orang-orang yang datang dari daerah sekitarnya, seperti dari Jawa, Bali, Sulawesi, dan Timor. Kalaupun ada orang asing, maka mereka yang datang berasal dari Eropa, khususnya Belanda dan Inggris. Sebagian besar masyarakat bertutur menurut bahasa lokal yang masih serumpun dengan bahasa Austronesia. Mungkin dalam hubungan antarabangsa mereka menggunakan bahasa Melayu yang pada waktu itu pemakaiannya cukup merata di nusantara.

2. Keabsahan Penelitian

“Penelitian Arkeologi” yang dilakukan oleh sekelompok peneliti vulkanologi dari Amerika Serikat bekerja sama dengan Direktorat Vulkanologi tentu saja menimbulkan pertanyaan di kalangan peneliti arkeologi Indonesia yang bekerja di Puslitbang Arkenas, Balai Arkeologi, dan mungkin juga Jurusan Arkeologi di universitas. Bukankah yang “mempunyai otoritas” penelitian arkeologi ada pada Puslitbang Arkenas? Kalaupun ada pihak asing yang melakukan penelitian arkeologi, tentunya terikat dengan ikatan kerja sama antar lembaga penelitian arkeologi.

Dalam kasus penelitian yang dilakukan oleh Sigurdsson, para petinggi di pusat dan di daerah tidak mengetahui kegiatan tersebut. Ini berarti penelitian arkeologi tersebut dilakukan secara "liar”. Kalau mereka melakukan penelitian vulkanologi dapat dikatakan legal, tetapi apabila menemukan indikator arkeologis seharusnya mereka segera melaporkannya kepada institusi kebudayaan atau arkeologi terdekat, misalnya BP-3 di Gianyar, Balai Arkeologi Denpasar, atau Dinas Budpar.

Ada indikasi bahwa mereka “sengaja” melakukan penelitian arkeologi seperti yang tersirat dalam kalimat “sudah sekitar 20 tahun mencermati lokasi yang tengah digalinya”. Tanpa berburuk sangka pada tim tersebut, mungkin saja mereka tidak tahu kemana ijin untuk penelitian arkeologi dimintakan, dan kemana ijin penggalian dimintakan. Tentunya ke Puslitbang Arkenas dan ke Direktorat Purbakala dan Permuseuman, Ditjen Sejarah dan Purbakala.

Saya melihat ada kejanggalan dari penelitian vulkanologi tersebut, yaitu keterlibatannya arkeolog Indonesia, seperti yang diberitakan dalam The New York Times, 28 Februari 2006:
Dr. Sigurdsson said in a phone interview that Indonesian archaeologists had examined the artifacts and were planning systematic excavations this year. Their first impression of the material suggested that the Tamboran culture was linked by ancestry or trade to Vietnam and Cambodia. Other archaeologists have yet to assess the find (nytimes.com).

Kebenaran berita adanya peneliti arkeologi Indonesia dalam tim tersebut telah saya tanyakan pada Kapuslitbang Arkenas dan Kabalar Denpasar. Diakui memang ada tim yang melakukan penelitian ke wilayah Sumbawa, yaitu ke Dompu (tenggara Gunung Tambora). Penelitian tersebut memang merupakan salah satu kegiatan penelitian Puslitbang Arkenas tahun 2006.

3. Penutup

Penelitian vulkanologi seperti yang dilakukan oleh tim dari Rhode Island University belum berakhir. Tahun 2007 tim tersebut akan kembali dengan membawa peralatan yang lebih canggih, seperti yang dikemukakan dalam The New York Times:
Next year, Dr. Sigurdsson expects to extend the radar survey, searching for traces of the rest of Tambora and perhaps the king's house.
Sementara itu, institusi yang berkompeten di bidang penelitian arkeologi seolah-olah diabaikan begitu saja. Kabarnya ijin penelitian ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga tidak dimintakan, sebagaimana dikemukakan oleh Neni Sintawardani dari LIPI. Saya belum mengkorfirmasikan pada Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi (BPPT), apakah tim penelitian tersebut meminta ijin penelitian atau tidak.

Sebagai penutup dari uraian singkat ini dapat saya kemukakan beberapa hal:

1. Mengingat data yang dikumpulkan tim vulkanologi tersebut masih terlalu minim untuk menjelaskan tentang kebudayaan apalagi peradaban, saya belum berani memastikan budaya apa yang berkembang pada masa sebelum meletusnya Gunung Tambora. Apalagi saya tidak tahu seberapa luas areal yang digali untuk menemukan sisa permukiman yang terkubur puing hasil letusan.
2. Tim peneliti vulkanologi tersebut terlalu berani menyimpulkan bahwa akibat letusan hebat Gunung Tambora pada tahun 1815 sebuah peradaban telah lenyap. Buktinya Syair Kerajaan Bima menyebutkan pemerintahan kerajaan tetap berjalan. Pulau Sumbawa bukan merupakan pulau gunungapi seperti Hawaii dan Krakatau yang dimukimi oleh masyarakat dengan budaya tersendiri. Contoh meletusnya Gunung Merapi dan Merbabu pada abad ke-10 Masehi tidak melenyapkan peradaban Mataram. Dengan demikian, apabila di Sumbawa terdapat sebuah peradaban, maka masyarakat pendukung peradaban itu akan mengungsi ke tempat yang aman.


Bambang Budi Utomo,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional

SUMBER
Comments
1 Comments

1 comment:

Melihat Indonesia said...

Saya menyukai artikel ini. Kebetulan saya memang berminat segala hal tentang Nusa Tenggara. Saya minta izin untuk mengutip dan memakai foto-foto dari artikel ini untuk dimuat di blog saya : Cantigi Peace Blog di http://rizalbustami.blogspot.com
Terimakasih !